| one article - one struggle |

Liberation is a praxis --Freire--

Pendidikan untuk rakyat --Tan Malaka--

"Tak cukup hanya dengan metode pedagogi revolusioner, kita perlu menjembataninya dengan ilmu berparadigma revolusiner pula" --Muhammad Ruslan/Ideologi Akuntansi Islam (2016)--

Senin, 06 November 2023

BOIKOT

"Saat seseorang mengambil alih ladang tempat seseorang lain membuatmu terusir, siapapun itu kalian harus menghindar darinya saat bertemu di jalan! Kalian harus menghindar darinya di jalan-jalan kota! kalian harus menghindar darinya di toko! Kalian harus menghidar darinya di ladang dan di tempat umum! Dan bahkan di tempat ibadah sekalipun dengan membiarkannya sendiri, memberinya pengucilan, mengasingkannya dari tempat ini! Kalian harus menunjukkan padanya sikap benci terhadap tindak kejahatan yang dia lakukan terhadapmu."

Salah satu penggalan dari narasi pidato Stewart Parnel, yang menyerukan aksi pemboikotan, yang akhirnya dikenal dengan istilah aksi "boikot".

Parnel adalah pemimpin Liga Lahan Irlandia, yang memimpin pemboikotan-perlawanan terhadap kebijakan tuan tanah Lord Erne lewat kaki tangannya yang bernama Kapten Boycott (Charles Boycott), 1880.

Istilah boikot ini awal mulanya adalah adaptasi sarkas dari nama Kapten Boycott itu sendiri, yang sempat popular di media-media Inggris saat itu. 

Ketika tuan tanah Lord Erne lewat tangan kanannya Charles Boycott menolak permintaan petani untuk menurunkan harga sewa lahan hingga 25%, hal itu memantik marah para petani yang tercekik oleh sewa lahan yang tinggi ditambah panen yang buruk. Sebagai reaksi para buruh tani mengorganisir diri untuk secara bersama-sama melakukan boikot, lewat aksi pengucilan, penolakan untuk bekerja, dan penolakan untuk bekerjasama dengan Kapten Boycott.

Hasilnya, ketiadaan orang yang ingin bekerja untuk Kapten Boycott membuatnya kesulitan mengontrol dan memanen hasil panennya, hingga akhirnya keputusan mendatangkan pekerja dari luar yang membuat ongkos produksinya membengkak drastis membuatnya bangkrut.

Dari situ sejarah tentang pemboikotan dan kemenangan orang-orang kecil inilah yang kemudian membuat aksi boikot menjalar ke banyak negara berkembang sebagai alternatif perlawanan orang-orang kecil melawan elit-elit kolonial yang berkuasa.

Tentang bagaimana kaum Republik pada masa perjuangan kemerdekaan menemukan dan menggunakan boikot sebagai alat perlawanan, novel Pramoedya Jejak Langkah cukup apik menuliskan hal itu. "Bukan golongan kuat saja punya kekuatan, juga golongan lemah. Tuan, golongan lemah bisa menunjukkan kekuatan diri sebenarnya. Boikot, Tuan, perwujudan kekuatan dari golongan lemah!".

Di tengah situasi sosial politik kolonial yang menjarah banyak negara-negara kecil tak terkecuali Indonesia pada masa kolonial Belanda, boikot muncul sebagai senjata yang dianggap berkemajuan pada saat itu seturut dengan "berorganisasi". Dengan boikot rakyat kecil seperti menemukan alat yang tepat untuk menggebuk sekali pukul . Itu cukup untuk membuat Belanda pada saat itu keteteran karena pabrik-pabrik perkebunan dan gula mereka benar-benar kandas.

Ketika tangan-tangan pekerja berhenti, maka dengan sendirinya arus perputaran akumulasi modal produksi juga berhenti. Boikot dan mogok, seperti menjadi perwujudan praktis dari kata-kata Tan Malaka yang mengatakan: "Sesungguhnya bukanlah kaum pekerja yang bergantung pada kaum modal, tapi kaum modallah yang bergantung pada kaum pekerja". Dan itu terbukti bagaimana para elit meradang ketika tangan kasar pekerja itu berhenti.

Pada titik ini, Boikot menjadi alat politik kaum tertindas dalam sejarah perlawanan yang paling ampuh untuk memaksa para elit kolonial untuk membuat keputusan politik penting. Arus modal yang tergerus bahkan terhenti, tidak hanya sanggup menghentikan dan menghancurkan akumulasi kapital, tapi juga bisa membuat tank-tank lapis baja berhenti, pabrik-pabrik senjata menjadi redup.

 

#BoikotProduk yang mendukung zionisme israel

#FreePalestine


Sabtu, 04 September 2021

Amorfati



Matanya sayu seperti biasa. Rasa-rasanya jiwanya benar-benar babak belur oleh kehidupan. Tak ada hasrat, tak ada ide, tak ada lagi pengalaman hidup yang menggugah semangat. Hidup bagaikan ranjau. Semakin kita menyelaminya, semakin gelap, hingga tak ada lagi yang terlihat.

Bukankah berjalan ke dalam kegelapan itu sangat melelahkan? Sampai pada titik ketika ia benar-benar bertanya apa artinya tuhan menciptakan kehidupan demikian. Di bawah cahaya terang ada banyak lika-liku hidup yang menyedihkan. Terpotret dalam kegelisahan dan keputusasaan. Perjalanan panjang manusia mencari dan melawan rasa sepi ini tak pernah menemukan ujung akhirnya. Tak ada yang benar-benar sejati. Kemurnian hanyalah luapan hasrat dari kenginan mutlak untuk menyerah.

Aku menemukan bahwa hati manusia itu hambar, seperti kata Sartre. Dan kita berjalan dalam lingkar hidup demikian. Tak ada rasa sakit yang lebih pedih selain kehilangan hasrat atas hidup. Kita semua berharap bahwa suatu saat kematian kita lebih berarti dari seluruh kehidupan yang kita lalui. Kita menginginkan ada yang berubah dari hidup ini. Tapi, kita nyaris lupa, bahwa inilah kenyataanya. Kegembiraan hanyalah penundaan sementara akan kesedihan. Lalu dimanakah zaman pencerahan itu. Dimanakah zaman yang melampaui kesepiaan itu!?

Manusia tumbuh dengan keceriaan. Namun kehidupan perlahan-lahan merampasnya. Seperti anak kecil yang bertumbuh dewasa diiringi oleh pudarnya keceriaan dalam dirinya. Semakin kita dewasa, semakin kita menyadari banyak hal.

Hingga suatu saat kita memilih untuk diam, membiarkan tubuh berkerut menanggung pertanyaan-pertanyaan hidup yang tak pernah tuntas. Seberapapun kita kuat untuk bangkit, pada akhirnya kita semua akan tersungkur dalam kekalahan. Apa yang kita cari? Apa yang ingin kita menangkan sebenarnya? Tak ada. Kita nyaris dibutakan oleh ritme hidup manusia yang berjalan tergesa-gesa namun pada akhirnya juga tanpa tujuan.

Hidup sudah seperti kematian itu sendiri. Kita perlahan berjalan keluar tapi akhirnya juga kembali ke titik terdalam diri kita sendiri. Pada pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah menemukan jawabannya secara utuh.

Hasrat dari kegelisahan seolah mengingatkan kita dengan kata-kata Kiekergard: bahwa yang kita butuhkan dalam hidup ini hanyalah satu, yakni menemukan kebenaran. Benar untuk diri kita sendiri. Suatu kebenaran yang dapat mengilhami kehidupan dan kematian kita sekaligus. Pada titik tertentu, kita benar-benar merindukan kematian kita sendiri. Dan berharap bahwa urusan hidup ini berakhir secepatnya.

Ini bukan kontradiksi. Ketimbang meyebutnya sebai ekspresi pesimism, ini seperti sebuah perwujudan rill dari kejujuran diri akan hidup. Persis seperti kata Tolstoy, bahwa hidup adalah kemalangan itu sendiri. Kebahagiaan hanya milik mereka yang tak pernah dilahirkan.

Barangkali untuk ukuran manusia pada umumnya, ini sesuatu yang gila. Tapi untuk kita yang terlanjur menyelami makna hidup ini. Itulah jawaban yang paling jujur yang kita miliki.

Orang-orang merayakan kedatangan sembari menyesali kepergian. Merayakan kelahiran lalu menangisi kematian. Seperti sebuah siklus. Manusia hanya bisa mengais-ngais makna di antaranya, lalu lupa. Pada prinsipnya tak ada yang murni, sekali lagi tak ada yang sejati. Ketika manusia mati, tak satupun yang tersisa dari keseluruhan hidupnya. Kesenangan maupun penderitaan akan hilang bersamaan dengan kematian itu sendiri. Kematian adalah akhir. Akhir dari keseluruhan pertanyaan dan kebimbangan yang menemukan muaranya.

Duduklah disampingku. Kuceritakan padamu suatu kisah dari Tolstoy. Dengarkan baik-baik:

Dulu di India, di masa ketika ajaran-ajaran kebijaksanaan mulai lahir di bumi. Ada seorang Sakya Muni, seorang pangeran muda yang sangat bahagia. Ia hidup dalam lingkar tembok kemewahan istana. Segala bentuk kesedihan dan penderitaan dihindarkan dari hidupnya. Matanya tak pernah melihat gambaran orang-orang putus asa, kelaparan, hingga orang-orang penyakitan. Ia hidup dalam gambaran kemewahan dan kebahagiaan istana semata. Di dalam pengetahuannya, ia percaya bahwa hidup ini sangat indah.

Suatu hari ia berjalan mengendarai kuda keluar dari tembok istana sekadar untuk bersantai. Di jalan tiba-tiba ia melihat orang tua lusuh, penyakitan, yang menyedihkan, dengan muka kusam, dan tatapan hilang harapan. Ia sontak terkejut. Sebab ini pertama kalinya ia melihat pemandangan semenyedihkan itu. Ia tak pernah membayangkan ada kehidupan demikian berlangsung di bawah kolong langit ini.

Tak jauh itu, diperjalanan yang kedua ia tak hanya melihat banyak tatapan hidup seperti itu, yang ia lihat sekarang adalah seorang orang tua yang menggotong sesuatu. Yang tak lain adalah mayat. Ia kaget, lalu menjumpai orang tersebut lalu membuka penutup mayat tersebut. Ia bertanya kepada pengawalnya apa yang akan terjadi dengan orang ini (mayat tersebut)?

Pengawalnya pun menjawab: ia akan dikubur tuan, lalu dimakan oleh cacing. “Inikah yang akan terjadi pada semua orang?” tanya sang pangeran. “Iya tuan” jawab sang pengawal. “Akankah ini akan terjadi pada diriku kelak? Dimana jasadku akan mmebusuk lalu dikubur ke dalam tanah dan hilang?”, tanya kembali sang pangeran. “Benar tuan” jawab sang pengawal.

“Pulang! Sekarang juga” tegas sang pangeran dengan tubuh yang gemetar. Aku bersumpah—lanjutnya--bahwa aku takkan berjalan untuk bersenang-senang lagi dan takkan menikmati lagi seluruh kemewahan yang aku miliki.

Dan beigutlah sang sakya muni memahaminya. Bahwa satu-satu akhir dari seluruh cerita komplit perjalanan manusia di bawah kolong lanigt ini hanya satu, yakni kemalangan dan kesia-siaan, dan pucaknya adalah kematian.

Karena itu dik. Kubisikkan kedaun telingamu nasihat yang kupersembahkan untukmu. Hiduplah sehidup-hidupnya. Fatum Brutum AMORFATI kata Nietzche. Hiduplah untuk diri dan kebebasanmu. Makan dan minumlah dengan gembira untuk hidupmu. Hidup adalah tempat kita berbagi tragedi, hanya itu. Usaplah air matamu, dan bangkitlah untuk sisa-sisa kesenangan di antara lautan kesia-siaan dan kemalangan akan hidup. Tegarlah dengan seluruh tenagamu hingga sebelum masa ketika partikel-partikel tubuh kita melemah satu persatu, lalu tumbang. Dan ketika itu tiba, terimalah itu sebagai kemenangan terakhir atas kekalahan bertubi-tubi atas hidup itu sendiri.

 

 

 


Senin, 25 Februari 2019

Baju Wisuda

Wisuda, Wincung, dan Wisatawan Sekolah. hahaha.

Tidak seperti foto-foto perpisahan siswa-siswa di Barat pada umumnya. Biasanya, dalam sesi foto, maka para siswa biasanya berbaris sesuai dengan urutan perangkingan. Tempat duduk paling depan disamping kiri kanan sang guru biasanya diisi oleh siswa-siswa yang dianggap terbaik.  Dan itu sangat sakral.

Berbeda dari itu semua. foto di atas tidak demikian. Mereka yang mengapit saya sebaliknya, kadang-kadang saya ingin mengatakan, bahwa mereka adalah anak-anak juara juga. Tapi juaranya dalam hal buku hitam, tiada tandingannya. haha.

foto ujian kenaikan sabuk. wkwkw. dari kiri Vinky Taekwondo, yang baju putih Pelatih dari Padepokan Silat, Egan Wincung, Steven kungfu. haha.

Coba lihat. Betapa aura bakat terpendam mereka sangat nampak. Anak-anak yang sangat terobsesi dalam dunia persilatan itu, tahu-tahunya mengambil jurusan yang membosankan; akuntansi. Hahaha. Coba lihat, ditengah sesi fotopun mereka tetap mengacungkan tangan silat wincung. Hahaha.

Waktu ingin memulai sesi foto, ketika  para siswa dipersilahkan untuk menempati kursi di depan. Dengan sigap anak-anak dengan bakat buku hitam dan persilatannya itu, begitu cepat tak tertandingi mengambil posisi di depan. Lihat foto pertama. hehe. Saya mahfum dan hanya bisa tertawa melihatnya.

Mereka adalah anak-anak yang dikaruniai bakat dan kepercayaan diri yang sangat tinggi. Hanya saja  barangkali ia salah jurusan. Ckckck. Di kelas pun demikian. Saya kadang-kadang menyebut mereka seabgai wisatawan sekolah. Datang mau-mau dia, duduk, saling mengerjai, ribut, makan-minum, bermain sampai puas, lalu pulang. Begitu seterusnya. Sesekali dapat SP itu uda biasa. Paradoksnya bahwa mereka tetap bahagia dengan itu semua. hahaha.

Sekarang tiga tahun, ia lewati. Baginya kayaknya, ya biasa-biasa aja. Toh, silat wincung tetap dihati ketimbang menghitung harga pokok produksi. Hehe. Itupun, jangan tanya silat uda sabuk berapa? Hmm. Semua hanya ada dilevel imajinasi.

Wajah sumringah mereka pun berbeda dari kawan-kawannya yang lain. Para siswa yang lain, bahagia karena telah berhasil menuntaskan jenjang pendidikan menengah kejuruan. Kalau mereka, kayaknya bukan itu soalnya. Bagi mereka wisuda adalah puncak pembebasan tertinggi dari belenggu sekolah. Mereka barangkali mengaggap wisuda adalah perayaan atas keterbebasan dari ketidakbetahan hidup di alam sekolah.

Berbeda dengan siswaku, para laki-laki yang dibelakang. Dalam hal penerimaan terhadap budaya dan aturan persekolahan, mereka cukup kompromistis. Begitupun dalam pelajaran. Tak banyak tingkah pokoknya. Dan beberapa di antaranya cukup lumayan untuk ukuran akademik. Meski beberapa juga diantaranya mirip wisatawan sekolah tadi. Ya….menganggap sekolah sebagai tempat menghbaiskan umur, menghabiskan sisa-sisa remaja barangkali. Bedanya, bahwa ia tidak banyak bertingkah. Tidak pernah melanggar. Proud!. Hahaha.


bersama Tio, dan seorang penyusup bernama A Li

Sedangkan para srikandi-srikandinya. Rata-rata sudah pandai buat alis pokoknya. Wkwkw. Saya kurang tahu, hal itu ia pelajari dimana, kurang tahu juga. Sebab setahu saya, kami tak pernah mengajarkan hal itu di sekolah. Tapi, bagus loh, alis buatannya pun emang keren-keren. Sangat balance layaknya balance sheet dalam akuntansi. Hahaha.

Waktu sesi foto tadi, saya berujar ke photographer-nya agar dipercepat. Takutnya baju wisuda yang membuat gerah itu, bisa-bisa membuat bedak mereka pada luntur. Kan kasian, waktu berdandang yang dihabiskan tidak singkat loh…

vina, charlene, dkk. foto sehabis merampungkan lingkaran alis dengan perfect. haha

caption sama dengan yang di atas. hehe.

Dan tidak seperti dengan siswa laki-laki pada umumnya malu-malu untuk berfoto. Para siswa srikandi-srikandi millenial ini, sangat aktif. Hehe. Seperti mengafirmasi bahwa inovasi ponsel berkamera depan memang diciptakan untuk kaum perempuan. Haha. Untungnya tadi, mereka tidak melakukan boomerang di tengah-tengah sesi foto. Ampun, itu barangkali akan jadi pengalaman memalukan bagi saya ketika saya harus ikut hal demikian. Hahahaha.

Veno sang gigi harimau, asisten dan ketua kelas, bersama teman-temannya mengabadikan fungsi kamera depan handphone..haha.

Tapi apapun itu. melihat mereka memakai baju wisuda itu. Sangat membanggakan. Entah, itu baju wisuda yang ke berapa yang ia pakai. Bisa jadi itu yang ketiga ataupun keempat. Sejak TK hingga SMK. Jauh lebih baik, ketimbang saya. Yang sejak sekolah sampai sarjana tidak pernah punya pengalaman memakai baju seperti itu. hahaha.

Dan apapun itu. Doa terbaik untuk kalian semua. _/\_

Terakhir. saatnya mengabsen satu-satu....
dari kiri belakang ke kanan. yogi, djaya, joy, salim, tio, ricky, rudy, miko, john, whisly, sherina, haryana, eju, veno, dewi, eve, vina, charlene, wenny, devih, shella, Jeje, Marthi, sunarti, risma, jollyn, longli, aurel, steven, saya?, eagan, vinky. XII Akuntansi SMK Maitreyawira Batam.




Selasa, 19 Februari 2019

RACUN


Selalu ada yang berbeda saat menepi. Setelah didera penyakit yang membuat tubuh tak mampu beroperasi seperti biasanya, barulah arketip-arketip kesadaran kembali. Ingatan, bahkan imajinasi-imajinasi hidup perlahan-lahan muncul.

Setelah jiwa ditelan habis oleh rutinitas. Penyakit yang datang seperti pembebasan dari itu semua. Menengok kembali ke dalam dan menemukan diri yang hilang. Di saat-saat manusia kehilangan energi untuk memapah tubuh, disitulah kita akan kembali tersentak pada kesadaran bahwa manusia itu pada dasarnya lemah.

Kesakitan adalah pembebasan dan kesenangan adalah belenggu.Barangkali benar kata orang, bahwa sebanyak apapun waktu kita habiskan untuk beristirahat, tidak akan bisa mengobati keletihan, kalau yang lelah adalah jiwa kita. Suatu waktu, menjelang eksekusi mati sang filsuf besar Socrates, di kerumunan sahabatnya ia melontarkan pernyataan menjawab kerisauan dan kesedihan sahabatnya di sekitarnya, ia berkata; kebijaksanaan itu adalah pembebasan, yang paling dekat dari itu semua adalah kematian. Ketika hidup adalah belenggu, bagaimana mungkin seorang filsuf bisa bersedih atas kematian?

Para sahabatnya terdiam. Jelang kematian sang guru di depannya, membuatnya semakin sulit untuk menempatkan perasaannya. Kesedihan karena kematian bercampur dengan kesenangan karena pembebasan. Ia benar-benar kesulitan untuk mengontrol perasaannya yang tercampur itu. Sesekali ia tertawa sesekali ia kembali bersedih.

Kebenaran menjadi kumpulan-kumpulan absurditas-absurditas hidup. Manusia adalah narapidana yang tidak punya hak untuk membuka pintu penjaranya dan lari. Inilah kebenarannya, kata Socrates. Setiap kesenangan dan kesakitan adalah sejenis paku yang memaku jiwa dengan tubuh. Ketika jiwa telah terpesona oleh tubuh disitulah awal mula penderitaan lahir. Ketakutan akan rasa sakit adalah wujud dari hidup dimana jiwa hanya menjadi pelayan bagi tubuh. Dan ini adalah titik terendah dari hidup di mata filsuf.

Tak lama setelah itu, Socrates mati. Dia  dihukum dengan cara dipaksa meminum racun oleh penguasa Athena saat itu. Ia menghadapi itu tanpa rasa takut. Dunia berkabung. Rasa hormat atas keberaniannya terurai hingga kini. Kalau saja ia menyerah dan takluk, saya rasa sejarah akan berkata lain.

Dalam kehidupan ini, meski kita terpaut ratusan tahun dengan Socrates. Namun kisah-kisah tentang racun itu sangat terpaut dengan kehidupan kita dalam rupa bentuk yang berbeda . Aku melihat racun-racun yang membunuh Socrates itu berseliweran dimana-mana. Racun-racun yang diproduksi oleh kekuasaan menindas,  tidak hanya membunuh manusia, tapi lebih dari itu ia ikut membunuh nalar dan pengetahuan.

Namun begitulah hukumnya. Keadilan boleh kalah oleh ketidakadilan. Kebenaran boleh dilumpuhkan oleh kekuasaan. Tapi tak ada yang abadi untuk itu. Seperti dengan kata-kata Socrates; Orang jahat tak akan mampu menyakiti orang lain kecuali dirinya sendiri.

Minggu, 18 November 2018

Yang Abadi Adalah Kegelapan

Plukme.com
Seperti sebuah tatap kosong. Dua kelopak matanya tampak tidak lagi seimbang. Sebelah kiri begitu sayu. Asap meliup-liup dari puntung rokok di tangan kirinya. Seperti biasanya, hari itu terlalu melelahkan. Ia mengingat tadi siang. Beberapa teman yang ia temui menanyakan kesehatan dirinya. Pertanyaan-pertanyaan “Apakah Bung sehat?”. Seperti mengafirmasi bahwa dirinya memang sakit.

Lesu, murung. Begitulah temannya melihatnya. Kini ia baru 4 hari sejak meninggalkan kota yang ia tinggali 3 tahun silam. Pikirannya kembali ke belakang. Memunguti remah-rmah ingatan yang tersisa. Bukan karena rindu. Bukan. Karena rasa muak barangkali yang benar-benar tak pernah sudi meninggalkannya.

Ia mulai membatin:

Dulu ia punya prinsip. Katanya, dimanapun kaki berpijak di kolong langit ini, bau rumput tetap sama. Kebisingan tak pernah benar-benar pergi. Di alam kebisingan tak beraturan itulah umur manusia akan terus bergelut dengan kesia-siaan. Banyak yang berkata masa depan adalah gaib. Tapi tidak untuk dirinya. Baginya, kegaiban yang dipersepsi manusia banyakan muncul lantaran ia tidak pernah belajar dari kehidupan yang sesungguhnya.

Ini hanya soal waktu, batinnya. Sambil menunggu itu tiba. Kita semua akan menghibur diri dengan kesenangan palsu yang kita ciptakan untuk lari dari kenyataan. Dengan keangkuhan bercampur kebodohan, kita menghibur diri seolah manusia bisa merengkuh semua waktu.

Apa yang paling sial bagi seorang anak muda di usia dini adalah menemukan kebenaran hidup terlalu cepat. Kebenaran adalah kenyataan bahwa hidup itu tak berarti, kata Tolstoy. Hidup adalah lelucon bodoh yang dimainkan seseorang terhadap diri kita. ‘Seseorang’ yang terlalu abstrak untuk kita tahu keberadaannya.

Manusia begitulah dirinya. Ia seperti makhluk yang tersesat di hutan belantara diliputi ketakutan dan ketidakpastian, mengais-ngais harapan untuk keluar namun tak pernah punya jalan untuk menemukan pintu.

Mereka berdiri di atas ruang hampa tanpa pijakan. Kita sebagaimana umat manusia lainnya berada diambang keputusasaan hidup yang tak ada batasnya. Begitulah kenyataannya. Arketip gagasan yang mencoba menghidupkan harapan hanyalah penghiburan diri bagi mereka yang sudah tak tahan merasakan penindasan eksistensial hidup yang tak berkesudahan. Kita semua adalah orang-orang lari dengan berbagai cara yang kita pilih.

Dulu saya merasa terlalu terobsesi untuk memandang kehidupan ini dalam bilangan putih. Pengetahuan yang aku serap dibarengi dengan lokomotif ide-ide optimisme, aku memahami bahwa dunia ini tercipta dari cahaya kebaikan. Cahaya adalah esensi utama kehidupan, sedang kegelapan aku tempatkan sebagai konsekuesi sekuel dari ketiadaan cahaya, yang keberadaannya tergantung pada cahaya. Seperti anak polos yang meyakini bahwa kehidupan ini pada dasarnya baik, selebihnya hanyalah variabel-variabel kehidupan yang tercipta secara artifisial, yang kita sebut kegelapan.

Namun, sekarang rasanya tidak lagi demikian. Kehidupan sebagaimana kata orang adalah guru yang paling baik dalam mengajarkan banyak hal. Begitpun diriku. Dari kehidupan kita belajar bahwa kenyataan bahwa kegelapan barangkali adalah keabadian, sedangkan cahaya hanyalah realitas artifisial yang diciptakan manusia. Ruang kegelapan lebih luas. Sedang cahaya begitu relatif. Ia ada dan pada saat yang berbeda bisa meredup lalu hilang, setelah itu, ia menyisiakan kenyataan esensial kegelapan untuk kembali.

Cahaya itu diciptakan, sedangkan kegelapan tidak. Begitulah kebenaran kehidupan bagi kita yang ingin jujur untuk mengakui kehidupan apa adanya. Kehidupan seperti balon-balon sabun yang kita terbangkan ke udara. Begitu rapuh dan lemah, sebelum hilang tak berjejak.

Kita hidup dalam ketakutan, berjalan tergesa-gesa, meniupkan balon itu terus menerus, sembari berharap, namun tetap saja kita tak punya harapan untuk memenangkannya. Pengetahuan yang kita jadikan pegangan, tidak pernah benar-benar mampu memberikan kita jalan keluar hakiki untuk  keluar dari keptusasaan hidup. Sebaliknya, pengetahuan sebagaimana filsafat, ketimbah memberi jawaban lebih banyak hanya akan berkontribusi mempertegas dan memperjelas kebenaran bahwa hidup ini memang paradoks, palsu, dan sia-sia.

Sia-sia, seperti halnya seorang anak yang terus menerus meniupkan balon sabun itu, pecah lalu ditiup lagi, begitu seterusnya hingga tiba masanya ketika mereka sadar bahwa kenikmatan yang ia rasakan di sela-sela aktivitasnya itu adalah hal yang membosankan. Ketika kita mulai bertanya dititik kejenuhan dan kebosanan maka disitulah kita akan memahami hakikat terdalam dari kehidupan yang kita lalui. Ada banyak pertanyaan yang takkan pernah bisa kita temukan jawabannya, yang akhirnya melemparkan kita pada kekabungan hidup yang tak berkesudahan.  

Persis ketika Tolstoy berkata: “Pertanyaan yang memenuhi benakku diusia tua yang membuatku hampir bunuh diri adalah pertanyaan paling sederhana, yang tertanam di dalam jiwa setiap orang mulai anak yang paling bodoh sekalipun hingga orang dewasa yang paling bijak. Itu adalah pertanyaan tanpa yawaban yang tak bisa ditanggung seorangpun sebagaimana kuketahui dari pengalaman. Pertanyaan itu adalah, apa artinya semua ini dan apa yang akan terjadi dengan seluruh hidupku?”

Ia bangkit dari batinnya. Malam sudah larut. Ia mengambil sebuah buku kecil yang tergeletak di atas mejanya,lalu menuliskan: yang abadi adalah kegelapan, selebihnya palsu!  

Selasa, 03 Juli 2018

Laki-Laki dalam Perjalanan – [Part 1]



Ia duduk. Ini adalah persinggahan kedua bagi dirinya. Di sebuah tembok yang datar ia bersandar. Perjalanan hari ini begitu melelahkan, katanya. Diambilnya rokok, dihisapnya pelan-pelan. Dalam bayang-bayangnya ia meramu satu persatu ingatan yang lalu. Satu persatu rasa muak muncul kembali mengingat yang lalu-lalu. Ia mulai membatin:

Perjalanan ini mengajarkan banyak hal. Ada rasa bosan, terlebih rasa muak yang menggoncang tubuh dari dalam, menyaksikan kebenaran apa yang pernah dikatakan Nietzche bahwa manusia itu adalah binatang yang berpipih merah.

Kalau kau adalah gula maka semut akan mengerumunimu. Dan itu takkan terjadi ketika kau telah menjadi abu yang habis terbakar. Kau akan terbang, diterbangkan dengan mudahnya, dihempaskan oleh tiupan kecil sekalipun.

Dulu saya berpikir dunia ini begitu luas. Ada banyak rahasia kehidupan yang hampir tak terjamah oleh manusia kebanyakan. Rasa-rasanya semakin kita menyelaminya, yang terasa hanya lautan asing yang membekukan.

Ada irisan rasa muak yang tersisa kepada mereka yang telah terlanjur menempatkan kebebasan untuk menjadi manusia merdeka sebagai prinsip hidup. Tak ada sama sekali hasrat untuk memerintah begitupun untuk diperintah. Karena hidup terlampau sederhana untuk itu semua, kecuali untuk menjadi manusia merdeka, itu adalah keniscayaan.

Akhirnya, suatu saat kita semua akan tahu. Bahwa dimanapun bumi dipijak kehidupan tetap sama. Tak ada bedanya, kutub utara atau kutub selatan, sebab bagaimanapun bumi ini bergerak, manusia tetaplah manusia. Ia tetap sejenis binatang yang berpipih merah.

Bagaimana pun manusia memoles dirinya dengan rupa yang menggemaskan, ia tetap lah tidak bisa mengubah kegelapan yang tersembunyi dari jiwanya. Di dalam kegelapan itu ada hasrat, ada ambisi, ada rupa-rupa kenyataan untuk menaklukkan. Maka jangan heran, kalau dulu sejarah spesies kita memang hanyalah sejarah tentang perang. Sejarah tentang perbudakan, sejarah tentang kekejaman dan kejahatan—tak lebih dari itu.

Di sebuah lesung pipih dan rupa kemerah-merahan, di balik senyum ada taring yang begitu tajam tepat dirahang yang siap mengoyak. Membunuh, menghabisi harapan siapa saja yang enggan untuk takluk menjai santapan.

Dan kita pun paham, kenapa dalam sejarah manusia itu sendiri, selalu muncul orang perorang yang berusaha lari dari kehidupan manusia. Ada yang kita kenal dengan istilah samnyasin di belahan India kuno sama dengan istilah kaum sufi dalam tradisi Timur Tengah.

Mereka adalah golongan ‘penyendiri’ yang menjadikan kesendirian sebagai laku protes terhadap kehidupan manusia yang rusak, hipokrit, feodal yang memuakkan. Mereka bukanlah orang-orang lari, melainkan adalah orang-orang yang telah melancarkan protes yang sangat keras bagi kehidupan manusia itu sendiri. Mereka adalah orang-orang yang ingin menghancurkan samasara penderitaan, meretakkan segel kutukan yang tergembong rapat dijiwa manusia.

Manusia begitulah dirinya, semakin ia bangkit menuju terang, semakin dalam akarnya  ke bawah menuju gelap.

“Bis sudah harus berangkat, ayo cepat….!”

Ia terkejut. Mendengar teriakan kondektur bis. Ia bangkit. Bis yang ia tunggu sudah tiba, ia lalu bergegas meninggalkan batin yang belum selesai.

Ia  naik, duduk tepat di baris kelima dari sopir bus dekat jendela. Ia melihat kondektur bis itu berteriak-teriak mencari penumpang. Dalam bayangannya, teriakan kondektur bis itu mengingatkan teriakannya Zarathustra (dalam karyanya Nieeztsche), seolah berteriak:

Larilah kawanku… ke dalam kesendirianmu! Sebab kulihat engkau dipekakkan oleh suara bising orang-orang yang mendaku manusia! Larilah kawanku… ke dalam kesendiriamu! Aku melihat engkau disengat di sana-sini oleh lalat-lalat beracun yang mematikan! Larilah kawanku…..larilah….

“PAAANGGGG….”, bunyi klakson bis. Bis sudah berlari kencang.

Laki-laki itu berusaha memejamkan mata. Ia tahu, perjalanan yang harus ditempuh hari itu masih cukup jauh. Ia harus mengatur persediaan energi yang cukup. Ia tertidur. Di dalam tertidurnya ia bermimpi berdiri diatas panggung yang kosong, membaca puisi Chairil Anwar berulang-ulang dengan keras penuh emosi yang dalam:

Kami pejalan larut
Menembus kabut
Berkakuan kapal-kapal pelabuhan
Darahku mengental pekat. Aku tumpat pedat

Engkau tanya jam berapa?

Sudah larut sekali, gumamku
Hilang tenggelam segala makna
Dan gerak pun terhenti

***

Jumat, 23 Maret 2018

Di Bawah Altar



MATANYA sayu namun tajam. Di dalam bola matanya tersimpang iba. Ia adalah satu diantara mereka yang berjuang melawan takdir. Ketika sebagian orang mengeluh panasnya terik matahari siang. Ia tidak. Tubuhnya sudah kenyang akan panas dan dingin. Kulitnya menghitam terbakar terik. Pagi sampai malam adalah kehidupan ia lalui. Tanpa pernah barangkalai mengeluh. Di jalan mereka hidup. Berdiri tegar bersama kerasnya hidup di tengah keramaian banyak orang yang ingin menyembah tuhan, sembari menjajakan koran penyambung hidupnya.

Umurnya barangkali baru 6 tahun. Waktunya yang mudah untuk bermain, bersekolah sebayanya. Namun begitulah hidup yang datang menghampirinya tanpa pernah diberi pilihan. Barangkali dalam ingatannya apa yang ia lihat anak sebayanya adalah dunia yang begitu asing bagi dirinya. Mereka mungkin tak pernah berpikir layaknya para anak sekolahan yang bercita-cita ingin jadi dokter, ilmuwan, atau pengusaha. Yang ia bayangkan hanya apakah koran dijinjinan tangannya hari itu laku atau tidak. Suatu hidup yang terlampaui sederhana ia lalui dengan tegar.

Saya benar-benar tersentak. Entah perasaan apa yang membuncah ini. Perasaan yang sama pada anak paruh baya yang sempat kujumpai sebelumnya di pinggir lampu merah dua hari sebelumnya. Berbekal lap kain di tangannya, anak kecil itu mengusap kaca mobil yang berhenti dipersimpangan lampu merah itu, dengan harap bisa mendapatkan receh dari para puan-puan penggunan mobil dijalan, tanpa pernah memaksa.

Dua anak yang kujumpai ini seperti mengentak iba yang tak tertara dalam diri. Dalam perjalanan pulang di atas motor, terasa ada hal yang benar-benar menguap dalam batinku, yang tak bisa aku simpulkan. Suatu perasaan yang barangkali bisa aku katakan sebagai perjalanan spritual tersendiri. Di jalan rasa-rasanya aku menemukan hal-hal berharga tentang hidup ini lebih dari yang kudapatkan dimanapun. Kepedihan hati yang bercampur-campur yang tak pernah bisa aku mengerti. Suatu perasaan yang bahkan tidak pernah aku temukan di ruang-ruang dimana manusia lazim menyembah tuhan sekalipun.

Barangkali Gandhi benar. Tuhan selalu hadir di wajah orang-orang kecil. Wajah-wajah yang bahkan selama ini diabaikan di tempat dimana manusia merayakan keberadaan tuhan sekalipun.

Barangkali, seandainya tuhan mengutus kembali para nabinya yang telah kembali ke sisinya melihat ini semua. Saya yakin ia akan geleng-geleng kepala, menyaksikan betapa bodoh para umat-umatnya ini. Ia membangunkan tuhan tempat-tempat yang mewah, tanpa pernah menemukan tuhan di dalamnya. Mereka ingin mengkarangkeng tuhan di altar sempit yang ia cipta, sembari terus menerus menafikan manifestasi-manifestasi tuhan pada orang-orang kecil di sekelilingnya.

Mereka kagum dengan hasil cipta karya tangan mereka sendiri, lalu mengkapling-kapling klaim ketuhanan atas kebenaran mereka sendiri menjadi identitas, lalu memuja dan memujinya dalam keadaan yang penuh kegilaan, sembari berlindung dalam ketenangan-ketenagngan yang tak ada bedanya dengan menghirup heroin di bar-bar malam. Lalu pulang, dengan segala ketenagan palsu yang dimilikinya, tanpa pernah berpikir bahwa dibalik istana kekayaannya ada wajah-wajah tuhan yang mengibaskan tembikar menghitung hari untuk bertahan hidup, tepat disamping istana tuhannya yang mewah itu.

Aku berpikir, bahwa tempat-tempat ibadah suatu saat akan menjadi museum sejarah yang mengingatkan kebodohan manusia masa lalu. Persis ketika para arkeolog menemukan purbakala-purbakala manusia-manusia lampau. Melihat para orang-orang beragama lebih sibuk bertengkar pada urusan pendirian tempat ibadah daripada memperbaiki kondisi sosialnya yang sudah sekarat senjang.

Aku muak dengan kemegahan palsu,” kata Iqbal—Sang filsuf penyair. “Padamkan lampu di semua kelenteng dan mesjid,” lanjutnya. “Sebab mereka mencoba menipu tuhan dengan berhala-berhala. Dengan sujud bicara tanpa makna. Kemudian arahkan pandang kepada semua pemuka agama. Sebab mereka berdiir bagai tirai besi yang memisahkan manusia dan tuhan…”

Kebenaran dalam agama seperti mendayung-dayung layaknya balon udara yang kosong, terbang lalu hilang sekejap tanpa jejak. Seperti halnya dengan tuhan di mata manusia. Ia datang sejenak lalu hilang dalam waktu yang lama yang bahkan tak pernah ditemukan sama sekali dalam kehidupan.

Hidup semakin jalang. Di tengah-tengahnya dimana agama perlahan-lahan lapuk dimakan usia yang lumpuh dalam mengambil peran sosial. Para beton-beton tembok-tembok tempat ibadah dibongkar, dibangun kembali, dibongkar lagi, dibangun kembali dan seterusnya; terus diperkilat dan dimewahkan, sekadar untuk menghabiskan uang sumbangan milik umatnya.

Namun disudut-sudut sana, para orang-orang kecil yang terbuang duduk termangu-mangu dalam keadaan lapar, memanggul beban di pundaknya, menyaksikan tepat di samping kotak sumbangan yang tergembok rapat; betapa kayanya tuhan yang meminggirkan dirinya. Seolah ingin berkata; Pandanglah ke bawah. Tak ada tuhan di atas. Tuhan yang baik. Hanya neraka di bawah sini…


Senin, 01 Januari 2018

Dinding Biru


GESEKAN biola itu betul-betul menggugahnya. Pikirannya terasa tenang, seperti melampaui 2-3 masa yang lewat. Semua ingatan menyeruak satu persatu. Bus terus melaju kencang tak peduli. Anak muda itu menyandarkan tubuh menghela nafas. Matanya tak berkedip seperti menatap waktu. Lebih 1.000 Km ia berjalan, namun takpernah tahu sebabnya.

Ia merabah rompinya mengeluarkan kamera pocket memotret dari balik kaca bus. Sesekali mengeluarkan buku kecilnya mencatat entah apa yang ia catat. Ia sebenarnya ngantuk berat karena perjalanan panjang itu, namun enggan untuk memejamkan mata. Ada pertanyaan-pertanyaan yang mengganggunya.

Aura dinginnya malam telah tiba. Kondektur bus sudah memberi tanda, bahwa dirinya sudah harus bergegas. Ia akhirnya turun menginjakkan kakinya untuk pertama kalinya di kota yang begitu asing bagi dirinya. Ia masuk ke terminal sembari menjinjing sehelai pakaian yang ia kemas dalam ranselnya yang bertumpukan bebrapa buku. Ditembok biru kusam ia menyandarkan diri, sendiri.

Di kota ini katanya dalam hati, ada banyak kisah pilu yang dipanggul oleh manusianya. Kepiluan atas kehilangan. Jejak darah dan air mata berseliweran di atas segala bencana. Perang hingga tsunami. Memupus seluruh kenangan menyisakan luka meringis. Barangkali itulah artinya dinginnya malam dan sunyinya waktu menyambut.

Jam sudah menunjukkan pukul 01.41, kota sudah sepi. Hanya beberapa proletar yang masih lalu-lalang menawarkan ojek. Anak muda itu, masih enggan beranjak, pikirannya masih tak selesai sejak mendengarkan biola di bus tadi. Biola tadi memang seperti tangisan anak kecil merengek-rengek. Ia tersentuh seperti baru saja ia dilanda kesedihan mendalam.

Ia termenung. Matanya mengarah kepada orang-orang terminal yang asyik main domino itu, namun pikirannya melayang-layang. Ia seperti tak percaya dirinya sudah terlampau jauh berjalan. Ia hanya percaya, dimanapun manusia hidup kehidupan akan tetap sama. Entah ia berada di kutub utara atau selatan sekalipun.

Ia merogoh rokok di rompinya, menghembuskan asapnya tebal-tebal. Jam sudah menujukkan pukul 02.36. Ia kembali mengambil catatannya mencatat entah apa.

Ah.. ia menyela meyakinkan diri. Barangkali GM ada benarnya:

senja pun jadi kecil
kota pun jadi putih
dari sayap langit yang beku
ketika burung-burung di rumput-rumput dingin
berhenti mempermainkan waktu
ketika kita berdiri sunyi
pada dinding biru ini
menghitung ketidakpastian
menunggu seluruh usia…

Ya... Barangkali tentang manusia yang meramu kenangan sebelum semuanya terkubur oleh usia… .Sepertinya tak ada yang berubah bagi manusia. Selain bahwa yang tua akan layu dan yang muda akan kuncup. Satu-satunya yang memperantarainya hanyalah kesunyian. Sisanya hanyalah tentang bagaimana manusia bermain-main dengan waktu menghabiskan seluruh usianya.

Ia lalu berdiri, beranjak. Menghilang di tengah kegelapan kota entah menuju kemana sembari membawa pertanyaan-pertanyaan yang selalu datang mengganggunya.*


Selasa, 10 Oktober 2017

Orang-Orang Kesepian Berseragam


“Kalian sebenarnya adalah orang-orang kesepian yang menjadikan sekolah sebagai tempat pelarian. Bukan begitu? Karena itu, terlalu sulit untuk berbicara hal-hal serius dihadapan kalian,” begitulah pendeta ilmu berujar sebelum menutup ruang belajar yang ia mampu, disambut tawa dengan berbagai ekspresi oleh muridnya.

Ada yang mungkin menganggap kata-kata itu hanya lelucon menyembunyikan amarah sang pendeta ilmu melihat tingkah laku sang murid. Ada juga yang mungkin merasa baru kali ini mendengar kata yang terlalu puitis untuk ukuran telinga mereka. Sang pendeta ilmu tidak yakin kalau satu kalimat yang ia sampaikan tersebut terpahami. Yang jelas bagi sang pendeta ilmu, lebih baik mengkonversi amarah lewat untaian kata yang lebih bijak ketimbang mengekspresikan begitu saja secara frontal.

Tapi aku melihat dari muka mereka bahwa ia mengamini itu benar. Mereka memang adalah kumpulan orang-orang kesepian yang selalu mencari cara untuk melawan hal itu. Kebisingan adalah hasilnya. Karena itu ada hal dimana sang pendeta ilmu akan meletimasi pengwajaran lalu-lalang kebisingan kelas itu dengan mempersepsi bahwa murid-murid di depannya ini adalah kumpulan orang-orang terpaksa mengikuti autran yang ia tak ingini.  Mereka sebenarnya adalah orang-orang tertindas oleh struktur, lalu larut dalam doktrin-doktrin imajinasi ancaman akan masa depan untuk berdamai dengan kenyataan buruk yang mengikatnya.

Mereka adalah manusia yang telah berhasil dirubah menjadi orang-orangan. Dikontrol dengan mudah lewat apa saja, selama itu terkait dengan nilai yang bagi mereka sangat penting itu. Mereka menghabiskan waktunya dengan basa-basi yang tak penting. Mengerjakan sesuatu yang sama sekali tidak terikat oleh kebutuhan mereka.

Benar-benar, hampir 12 tahun kesadaran mereka dikoyak-koyak oleh sistem yang bernama sekolah, kehilangan unsur kekritisan selain sekadar mengikuti apa yang sudah pakem. Mereka adalah orang-orang yang tak butuh alasan untuk melakukan sesuatu selama itu adalah perintah. Ini benar-benar menyedihkan. Bagaimana mungkin kita menganggap ada tujuan manusiawi yang ingin dicapai oleh sistem demikian?

“Waktu saya sudah habis. Tugas yang kamu kerjakan tadi tak usah dikumpul,” kata sang pendeta ilmu. Sang murid diam, bingung, dalam pikir ia berkata: gila! Capek-capek bikin tak dinilai pulak! Dari ekspresinya nampak kalau ia menuntut alasan, kenapa?

“Menurut kalian tugas demikian itu penting atau tidak?” tanya sang pendeta ilmu.

“Penting pak…. .,” jawabnya.

“Penting untuk apa?” Untuk nilai pak.

“Ada yang menganggap tugas demikian tidak penting?” tanya sang pendeta. Suasana jadi hening. Tak ada yang bersuara. Dari ekspresinya ia takut.

“Kalau begitu menurut saya itu sama sekali tidak penting!”, simpul sang Pendeta memancing. Mereka tampak sumringah mengangguk mengafirmasi sepakat. “Kami sebenarnya berpikir demikian, cuma takut bilang tidak penting,” sanggahnya.

Begitulah basa-basi dilakukan. Para murid yang diklaim seabgai kaum terpelajar tak perlu butuh alasan untuk mengetahui, cukup melakukan. Bagaimana mungkin ada sesuatu yang penting ketika ia menulis ulang sesuatu yang ia pindahkan dari buku paketnya sendiri, tanpa ia tahu apa yang ia tulis? Demi sekadar untuk memenuhi keinginan sang empunya otoritas?

Ada hal yang terasa gila, ketika kita melihat bagaimana mungkin orang bisa menikmati basa-basi yang tidak perlu demikian? Persis seperti gambar di atas. Para murid yang kita sebut pelajar demikian berada dalam lingkaran absurditas seperti itu. Ia adalah kumpulan-kumpulan orang-orang yang menikmati basa-basi dan ketertindasan mereka sendiri demi sebongkah otoritas kecil yang menindih mereka dari atas sembari tersenyum-senyum.

Mereka-mereka yang seperti dikatakan oleh Tan Malaka, adalah pelajar-pelajar inlader yang dicipta laku penakut oleh politik pendidikan kolonial. Penakut bahkan untuk sekdar bertanya sekalipun. Tepat, ketika Tan menyebut pendidikan pendiaman demikian adalah racun bagi kesadaran anak bangsa.

Yang tersisa dari aktivitas yang diklaim belajar demikian hanyalah rutinitas sembari menunggu waktu berlalu, menghabiskan masa kanak-kanak dan remaja dengan sia-sia. Tak ada yang lebih berguna sekolah bagi mereka selain tempat untuk mengobrol. Hal yang mereka tak dapatkan di luar. Pada titik tertentu mereka adaah orang-orang kesepian yang terselamatkan oleh sekolah, namun juga kembali ditindih oleh budaya pendiaman yang sistematis yang datang dari sekolah itu sendiri.*



Minggu, 08 Oktober 2017

Sekolah? dan Lelucon yang tak Selesai-Selesai

Tulisan ini diawali dengan bertanya. Sekolah? Mungkin banyak diantara kita yang balik bertanya, bukankah ini pertanyaan konyol basa-basi? Kenapa sih mesti mempertanyakan ulang apa itu sekolah? Bukankah definisi sekolah itu sangat sederhana dan sudah jelas? Sebuah gedung dimana anak-anak belajar, di dalamnya ada pengajar yang kita sebut guru? Coba apalagi. Ini tambahin: Ada buku paket, ada meja, ada bangku, ada aturan, ada hukuman, ada otoritas, dan tentu saja ada SPP (nah, ini yang super penting), dan lain sebagainya. Lantas buat apa nanya lagi tentang apa itu sekolah?

Bagi mereka yang memandang sekolah sebagai kenyataan apa adanya, mungkin pertanyaan ini terkesan konyol. Bagaimana tidak konyolnya, siapa yang tak bisa memberi definisi apa itu sekolah? Anak TK aja tahu.

Kalau saja pertanyaan ini adalah pertanyaan ujian, maka jawabannya pun mungkin hanya bisa dijawab dengan hitungan menit. Lantas apa signifikansinya mempertanyakan ini?

Mari kita melihat bagaimana banyak orang mendefiniskan apa itu sekolah. Sekolah adalah:

Suatu bangunan yang dikelilingi pagar runcing. Dijaga sipir semi-militer. Dikontrol oleh polisi moral. Di dalamnya, semua orang yang terlibat dikungkung dalam ruang yang terbatas. Aturan adalah segalanya. Menerima, melaksanaken, adalah normativitas moral yang paling tinggi derajatnya.

Datang pada jam tertentu, istirahat pada jam tertentu, dan pulang pada jam tertentu. Mendengarkan apa saja yang sudah ditentukan, berbicara pada batas yang sudah ditentukan, dasar kebenarannya adalah apa yang telah ditentukan. Semuanya harus berdasarkan ketentuan.

Para anak yang disebut pelajar ini. Mesti datang dengan seragam. Pakaian seragam, sepatu mesti sesuai dengan ketentuan seragam, kaos kaki, bahkan bentuk rambut pun juga mesti seragam, gaya salam harus seragam. Bahkan konon, isi kepala pun kalau bisa juga harus seragam.

Dengan keseragaman itu, tanpa memandang umur, mereka mesti berbaris seperti unggas di pematang sawah. Kuku, rambut, baju, kaos kaki, ikat pinggang semua diperiksa.  Sebelum masuk kandang tempat apa yang diklaim sebagai ruang belajar. Setelah itu duduk dengan sigap bak tentara. Mata tak boleh berkedip, kentut tak boleh bunyi, eh.. .Tak ada yang mesti luput intinya.

Inilah tempat dimana semua orang melihatnya sebagai tempat suci. Tempat pencucian diri untuk memenangkan apa yang disebut masa depan dan cita-cita. Sekolah. Sekolah. Sekolah. Sudah seperti mantra masa depan yang menjanjikan untuk bisa menjadi apapun.

Kadang-kadang orang juga mempersepsinya sebagai bengkel. Tempat untuk memperbaiki kerusakan. Anak-anak masuk dipersepsi sebagai orang rusak yang mesti diperbaiki. Anak-anak yang tanpa aktivitas (nganggur), nakal, pemberontak dimasukkan. Ini seperti kamp, tempat untuk menghukum anak-anak seperti itu.

Disini pula kita akan melihat banyak keanehan. Seorang anak bisa menghafal berlembar-lembar susunan kata-kata seperti burung beo. Melafalkan dan melafaskan apapun untuk nantinya dilupakan begitu saja.

Anda harus bisa segalanya. Menjadi manusia super adalah tujuannya. Anda tidak boleh hanya harus bisa berhitung cepat tangkas dan tepat, tapi juga berbahasa dengan banyak bahasa, berkesenian dengan banyak kesenian, punya kemampuan atlit yang bagus dari melempar bola hingga melempar apa saja. Punya kemampuan teknologi yang bagus, punya kepercayaan kepada Tuhan yang mantap, memiliki pengetahuan undang-undang dan nasionalisme yang tinggi, dan semuanya.  Dan juga harus punya kemapuan sastra level Nuruddin Pituin. Singkatnya, Anda harus bisa segalanya!

Tiap hari Anda harus datang ke sekolah mendengar omelan yang disebut ceramah. Lalu mengerjakan tugas. Pulang pun bahkan mesti mengerjakan pekerjaan yang sama. Dengan jumlah jenis pekerjaan yang sangat banyak itu. Target-target adalah segalanya. Mencapai angka yang telah ditetapkan sekolah dan pemerintah adalah keharusan sebab kalau tidak, siap-siap anda akan dicongkel posisinya begitu saja; dipaksa hengkang sebagai produk gagal.

Angka? Inilah yang paling sakral. Nasib Anda ada dalam hitungan angka-angka ini. Bahkan bukan hanya bahwa pengetahuan mesti diukur dengan angka, bahkan sikap Anda, bahkan yang lebih ekstrim lagi, adalah tingkat kedekatan Anda dengan Tuhan dan hal-hal abstrak lainnya akan diukur dengan angka-angka ini. Angka ini sungguh ajaib!

Angka adalah ancaman sekaligus iming-iming. Ia seperti racun dan permen. Karena angka ini, para pelajar tak perlu belajar untuk mencintai aktivitas belajar dan membaca. Membaca atau lebih tepatnya lebih penting; menghafal demi angka.

Seolah ingin berkata, buanglah semua buku novel yang tak ada hubungannya dengan nilai mata pelajaranmu! Bahkan tidak sedikit memang sekolah memberlakukan ini, dengan cara-cara sweeping buku-buku yang tak terkait dengan buku sekolah.

Angka adalah segalanya, ia adalah simbol prestasi. Tak peduli bagaimana cara Anda belajar. Yang jelas target pencapaian angka mesti teraih. Dan ketika angka ini yang menjadi tujuan telah tercapai, maka dengan sendirinya semuanya telah selesai dan beres. Di setiap selesai ujian seperti ujian semester atau ujian kenaikan kelas, Anda akan mudah melihat bagaimana buku-buku paket siswa itu berceceran dimana saja, lebih tepatnya ia buang. Alasannya sederhana, untuk apa lagi buku? Bukankah ujian telah usai. Angka itu sudah muncul. Untuk apa lagi buku?

Ketika pemerintah selalu berkampanye mendorong “Ayo Membaca”, mereka hampir tak melihat kenyataan seperti ini, sebagai ekses dari kebijakan pendidikan yang tak karuan yang ia buat.

Apa yang tersisa selain lahirnya produk sekolah dengan kepribadian angka seperti ini. Seorang yang terbentuk dengan kepribadian yang fetisisme terhadap angka. Suatu jenis ketergila-gilaan terhadap angka dan selembar kertas pengakuan.

Suatu lembar pengakuan yang di dalamnya tersusun banyak angka secara akumulasi. Mendapat lembaran kertas pengakuan ini adalah segala-galanya. Bahkan saya berpikir, tanpa lembaran-lembar kertas pengakuan ini, maka tempat/lembaga ini sama sekali tidak ada artinya lagi bagi penghuninya.

Setiap tahun ada semacam ritual pengukuhan akan kesakralan kertas pengakuan ini. Dari fase yang kita sebut ujian dengan berbagai macam banyaknya itu, hingga kepersoalan-persoalan penilaian akan standarisasi apa yang disebut moralitas. Mereka yang bisa melewati tangga-tangga ini, dengan sendirinya dikukuhkan secara simbol pengakuan-pengakuan dalam bentuk kertas pengakuan. Anda dianggap telah berhasil! Lulus!

Kertas pengkauan ini sangat sakral. Sekolah berhasil memahamkan bahwa tanpa selembar kertas pengakuan ini, maka masa depanmu akan kelam. Engkau takkan bisa berarti apapun tanpa selembar kertas ini. Apalagi di era dimana manusia hidup dalam ring kompetisi yang sangat ekstrim ini, katanya.

Orang-orang yang kita sebut siswa itu benar-benar melongo hampir-hampir tak berkedip ketika mendengarkan ancaman-ancaman seperti itu. Bagi mereka ini seperti wahyu, seperti petunjuk-petunjuk langit untuk benar-benar serius. Mengikuti segala perintah dan larangan sekolah dengan penuh kekhusukan.

Sekolah berhasil membentuk image, bahwa mereka-mereka yang melanggar adalah mereka-mereka yang nakal. Nakal (meski banyak akal) adalah suatu gambaran dari semiotika masa depan yang kelam. Ada neraka kehidupan yang menanti bagi para pelanggar, pembangkang, dan tentu saja juga berlaku bagi mereka yang tidak memiliki kecerdasan yang layak. Tugas Anda adalah mengikuti segala perintah. Cukup mengikuti. Maka dengan sendirinya nasib terbaik akan mengiringi kalian. Begitulah kurang lebih, entah bisa disebut doa ataupun sekadar ancaman berbalut halusinasi. Entahlah..

Sekolah adalah panggung ring. Dimana anak adalah pemain sedangkan guru adalah wasit/tim penilai. Ada pertarungan, ada kompetisi, karena itu mesti ada yang menang, ada yang kalah.

Yang menang akan diranking (kadang-kadang di ranking sembunyi-sembunyi) dalam suatu peringkat dari atas hingga terbawah. Mereka yang tidak beruntung, yang menempati posisi terbawah siap-siap akan dipantau. Salah-salah bisa drop out bisa pula tinggal kelas.

Dan celakanya, standarisasi yang dipakai untuk melakukan perankingan ini sangat sempit. Umumnya menggunakan indikator yang hampir tunggal. Anda yang hanya mengandalkan bakat musik hampir-hampir tidak akan bisa masuk dalam rangking yang tinggi. Umumnya mereka yang menempati posisi teratas diukur dengan satu ukuran dominan; sains. Yang disempitkan pada angka-angka yang tertera di lembar-lembar ujian.

Selama rentang waktu yang lama, bisa hingga 12 tahun Anda akan hidup dalam suasana ini; kompetisi. Dengan jam belajar yang panjang setiap harinya. Tidak kalah lama dari jam kerja para pekerja pabrik. Konon dalam kondisi inilah, apa yang disebut skill, kognitif, kepribadian Anda akan dibentuk. Demi masa depan Anda yang super lebih baik! Suatu  janji yang melebihi janji surga memang!

Sekolah seolah ingin berkata; penuhilah dirimu dengan skill. Berkompetisilah karena skill. Tak ada masa depan bagi mereka yang tak memiliki skill. Persaingan di luar semakin tinggi, satu-satunya alat untuk bertahan adalah skill. Skill adalah segalanya, tak peduli apakah Anda ingin bekerjasama atau tidak.

Inilah sekolah. Dimana di dalam ruang dan waktu yang berbeda, etika moralitas diperdengarkan sedang di ruang yang lain, potensialitas diri sebagai hewan pragmatis yang mengakumulasi terus menerus didoktrinkan. Masa depan sebagai masa kesuksesan adalah masa dimana doktrin-doktrin akumulasi materialitas ini mesti diwujudkan. Dan alatnya adalah skill.

Bahkan saya pernah membaca year book suatu sekolah, yang di dalamnya salah seorang guru ekonomi memberikan pesan kepada siswanya yang ingin tamat. Kesan dan pesannya sederhana, kurang lebih berkata: ada sisi lain dari persamaan antara ilmu yang engkau pelajari dengan teori ekonomi. Ia memiliki sifat keabadian yang bisa dipertukarkan. Persamaanya adalah bahwa ilmu yang engkau pelajari saat ini adalah uang di masa akan datang. Ngeri-negeri sedaap!

Uang. Uang. Dan uang. Adalah tujuan dan payung dari segalanya. Untuk mendapatkan apa yang disebut sekolah ini, orang tua mesti mengeluarkan kocek yang tak sedikit. Karena itu ia relevan dengan materi ajar yang bahkan diajarkan sejak SD. Yang lahir di era yang sama dengan saya (90-an), tentu tidak akan asing dengan pepatah ini yang tertulis besar di buku cetak versi pemerintah; waktu adalah uang!

Iya. Waktu adalah uang. Ketika di SD diajarkan waktu adalah uang,maka di sekolah menengah, konsepsi itu kembali diperbarui dengan pengembangan yang sedikit lebih meyakinkan. Pendidikan adalah investasi masa depan! Begitu slogannya. Ada hukum (doktrin) pasar yang berlaku. Dengan menggunakan ancaman ‘ketidakberuntungan’ sebagai alat untuk menjinakkan kesadaran untuk meyakini hal demikian.

Uang dan investasi adalah arus yang menjadi penyangga sekaligus arah dari kesadaran yang disemai. Kesuksesan yang dijanjikan seperti tiket surga oleh sekolah tak lain adalah hidup berkalang materi. Menjadi pegawai kantoran, dokter, polisi, pengusaha, dan profesi-profesi yang secara elitis bisa mendatangkan fulus yang banyak. Jangan tanya apakah ada anak yang ingin jadi petani? Itu hampir-hampir terdengar seperti lelucon!

Berpendidikan bukan soal berkepribadian. Bukan pula soal kualitas kemanusiaan, tapi ini soal pekerjaan, begitulah kira-kira. Rasionalitas-rasionalitas instrumental seperti ini terus dipupuk. Ilmu adalah alat, alat, dan alat. Pada titik tertentu ia akan menjadi alat untuk mengeksploitasi apa dan siapa saja.

Dan ironisnya, engkau mesti harus merogoh kocek yang tak murah untuk mendapatkan hal itu semua!